Wawancara bersama Mimi Rasinah

Kisah Dari Indramayu (Mimi Rasinah)



Dua pekan lalu saya ke Indramayu, Jawa Barat. Setelah mewawancarai Pak Endo Suanda, salah seorang guru dokumenter saya yang memperoleh master etnomusikologi dari Wesleyan University - Amerika Serikat berkat tesisnya tentang tari topeng, saya berangkat malam. Menjelang patung mangga Indramayu, kulihat samar-samar dari kaca mobil plang Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah di kawasan Pekandangan.

Keesokan paginya kudatangi rumah dan sanggar Rasinah yang sederhana. Sebuah bangunan seluas kira-kira 160 meter persegi. Di situ Mimi Rasinah, satu-satunya maestro tari topeng Indramayu, tinggal bersama putri, mantu, tiga cucu, dan beberapa cicitnya. Rumah yang didirikan 1999 silam, berkat bantuan seorang Jepang, setelah sempat roboh.

Kusalami Mimi yang akhir bulan lalu diopname karena stroke selama sembilan hari di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Ingatannya masih bagus, kendati telah berusia 78 tahun. Padahal, ketika di Jakarta saya mengira, Mimi Rasinah sudah tak bisa kuwawancarai. Setelah ngobrol sebentar, saya diajak suami Aerli, cucu Rasinah, menuju Asrama Haji Indramayu untuk menyaksikan sanggar manggung.

Acaranya sangat formal, rapat kerja tahunan koperasi pegawai negeri Indramayu. Bupati pun datang dan disambut empat penari topeng murid Sanggar Mimi Rasinah. Tiga penari topeng cilik beraksi. Lucu dan menarik. Terlebih seorang penari topeng dewasa yang menari bodor sambil minta saweran. Pentas mereka diiringi satu-satunya putri Rasinah, Wacih, sebagai sinden, suami Wacih yang menabuh gong, Aerli yang memukul kendang, suami Aerli yang memukul kecrek, abang Aerli yang menabuh saron, serta mantan guru-guru Aerli yang belajar gamelan.

Setelah sarapan sebentar, saya dan keluarga Rasinah kembali ke Pekandangan. Mimi menabuh saron di atas kasur, lalu ditemani saron Aerli, tembang Wacih, dan Surya --cicit Mimi Rasinah yang masih 1,5 tahun-- yang menari topeng. Usai jam session dadakan itu, tubuh ringkih Rasinah dibopong suami Aerli ke sanggar. Nenek yang telah lumpuh kakinya itu kembali menabuh saron, mengiringi Aerli, Wacih, dan Rani --adik Aerli yang masih berumur 5 tahun-- latihan menari topeng Kelana untuk pentas Sabtu lalu di sebuah hotel di Cirebon.

Usai berlatih, kuwawancarai Mimi. Saya seperti melihat perjalanan Indonesia dari sosok renta ini. Umur 5 tahun ia sudah diajari menari oleh bapaknya yang dalang topeng dan ibunya yang dalang ronggeng. Usia 7 tahun ia mulai ngamen (bebarang). Ketika Jepang datang, rombongan topeng ayahnya dituding mata-mata. Hanya satu topeng yang tersisa dari seluruh aksesoris tari yang dihancurkan Jepang. Pada agresi kedua, dengan tuduhan yang sama, ayahnya tewas ditembak Belanda.

Sepeninggal ayahnya, rombongan tari topeng Rasinah dipimpin suaminya, seorang dalang wayang. Sampai tragedi G 30 S, mereka dilarang manggung, karena dianggap tarian yang membangkitkan syahwat dan abangan. Tak cukup badai Gestapu, pada 1970-an kelompok tari topeng Rasinah semakin sepi tanggapan. Tarling, dangdut, dan sandiwara yang menggantikannya. Suami Rasinah akhirnya menjual seluruh

topeng dan aksesoris tari sebagai modal mendirikan grup sandiwara. Rasinah berhenti menari topeng selama 20 tahun lebih, hanya menabuh gamelan saja untuk sandiwara.

Baru pada 1994, Endo Suanda dan seorang rekannya sesama dosen di STSI Bandung, Toto Amsar Suanda, "menemukan kembali" Rasinah. Saat pertama kali bertemu, Mimi sedang momong bayi tetangganya dengan upah Rp 25 ribu sebulan. Suaminya sudah meninggal. Putrinya, Wacih, jadi TKW ke Malaysia selama dua tahun, menanggalkan cita-citanya sebagai penerus dalang topeng karena sepi undangan. Tak ada gamelan, aksesoris tari, bahkan nayaga atau penabuh gamelan ketika Mimi diminta menari oleh duo Suanda. Tapi, tarian topeng Kelana yang dipertunjukkan Rasinah membuat keduanya terpesona.

Setelah bertemu Pak Endo dan Toto, semangat Rasinah untuk menari timbul kembali. Ia cuma minta Rp 150 ribu untuk membeli gigi palsu, demi bisa menggigit delapan topeng yang harus ia lakonkan, dari Panji sampai Kelana Udeng. Selama tiga hari tiga malam, Mimi harus mengajarkan penabuh gamelan di Sanggar Tambi milik Pak Taham, ayah penari topeng Wangi Indriya. Setelah sebulan berlatih tari dan musik, Rasinah pulang ke Pekandangan dalam kondisi sakit karena kelelahan.

Sesudah itu, undangan pun berdatangan. Dari STSI, CCF, TUK, TIM, sampai Jepang dan Eropa. Saya sempat menyaksikan dulu di TUK dan TIM, dan langsung terpesona oleh magis tarian Rasinah yang selalu berubah karakter setiap berganti topeng. Seperti trance nenek renta itu menari, dari yang minimalis seperti Panji hingga Kelana yang berangasan. Saya yang biasanya tak mudah menikmati tari, akhirnya terkesima oleh taksunya.

Tapi, dua tahun lalu Rasinah jatuh ketika berwudhu, setelah mengajar tari di sebuah sekolah di Indramayu. Dua pekan setelah dirawat di RSHS, Mimi mengakhiri jalan tarinya. Ia mewariskan seluruh topeng dan aksesorinya kepada Aerli, sang cucu penerus, dalam sebuah upacara yang mengharukan sekali. 15 Maret itu Aerli harus ngamen di tujuh tempat dalam sehari sebagai syarat Rasinah. Sejak hari itu, keberadaan sanggar pun berada di pundah mahasiswa STSI Bandung berusia 22 tahun ini.

Saya mengikuti Aerli belajar tari ronggeng kepada Mimi Tiweng yang sudah berusia 70 tahun di Lelea, Indramayu. Perempuan yang sudah menari hingga ke Inggris dan Kanada ini seolah menelusuri lorong waktu. Ia seperti ingin menyerap aura ronggeng yang kenes tapi spiritual dari mendiang ibu Mimi Rasinah. Saya pun tak bisa menahan rasa haru ketika mengikuti mereka ngamen dengan becak, dan hanya dapat saweran lembar-lembar ribuan, namun ditaburi beras sebagai lambang kesuburan Dewi Sri.

Ketika berpamitan pulang kepada Mimi Rasinah, saya tak bisa menahan airmata. Ada rasa hormat bercampur cemas, entah kapan saya bisa bertemu perempuan indah yang teguh memenuhi panggilan hidupnya sebagai penari topeng. Tiba-tiba saya juga teringat kepada nenekku yang wafat Lebaran lalu.

Sabtu lalu, seusai tayangan Jendela episode Warisan Rasinah, Pak Endo lama menelepon dan sms  erdatangan dari kawan-kawan. Kemarin dan hari ini suami Aerli pun menelepon, memberitahu semakin banyak murid sanggar setelah penayangan. Kedua mata saya kembali mengambang ketika ia mengabarkan, ditawari menjadi dosen dan Aerli diminta mengajar tari di kabupaten seperti almarhum kakeknya dulu.

Tadi saya juga sms terima kasih kepada Maya Hasan, salah seorang juri hibah Kelola, yang meloloskan Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah sebagai penerima hibah. Lebih dari rating/share, gaji dll, rasanya indah sekali bisa membantu orang lain. (2008)


Sumber: Klik teng riki jeh...

0 Comments