Topeng
Palimanan Cerbon; Dari Babakdeng Sampai Babakbelur
Oleh : Sumbadi
Sastra Alam - Pengurus Lembaga Bahasa Lan Sastra Cerbon (LBSC)
Nenek berusia 75
tahun begitu kokoh menancapkan kuda-kuda kakinya di atas panggung papan di
depan rumahnya. Meski digerogoti usia yang renta, tubuh Mimi Tursini- penerus
sekaligus pewaris maestro tari topeng Palimanan Mimi Sudji (almarhumah) – tak
bergeming. Tubuhnya nampak tangguh menari tarian topeng Panji khas Palimanan
Cirebon. Sesekali dengan penuh kehati-hatian ia gerakkan tangan dan kepalanya
sambil ditimpali hiruk pikuk tetabuhan gamelan.

Wajahnya yang
keriput kentara saat tertimpa cahaya neon yang terpasang di atas panggung
sederhana. Namun sekejap berubah rona raut mukanya saat Mimi Tursini mengenakan
kedok topeng Panji. Wajah topeng yang cat putih itu menyatu dengan gerak
tubuhnya yang bersahaja. Mimi Tursini piawai menyuguhkan tari topeng Panji
seperti sosok manusia yang penuh bijak.Kepiawaian Mimi Tursini menarikan topeng
Panji sehebat maestro penari topeng Palimanan almarhumah Mimi Sudji. Gelar
maestro topeng Palimanan selayaknya disandang Mimi Tursini selaku pewaris
maestro topeng almarhumah Mimi Sudji.
Namun Mimi
Tursini tak pernah tersentuh perhatian pihak berwenang. Sebagai pewaris sah
topeng Palimanan dari keturunan asli almarhumah Mimi Sudji , tak pernah
mendapat bantuan apapun dari pemerintah daerah setempat. Padahal perjuangannya
mempertahankan keberadaan topeng Palimanan yang hingga kini tetap ada, Mimi
Tursini melangkah melalui perjalanan yang panjang dan tak pernah terhenti hingga
usianya senja.
“Sejak usia 12
tahun, sekitar tahun 1950 an, saya diajak ibunda Sudji keliling bebarang atau
mengamen dari kampung ke kampung hingga menyeberang kabupaten lain menjadi
penari topeng Palimanan. Sebagai penari kecil saat itu bebarang bukan semata
untuk mengais uang, tapi lebih penting menggodok diri hingga matang kepiawaian
saya dalam menari di depan penonton. Itulah perjalanan hidup topeng palimanan
yang disebut “babakdeng”. Yakni perjalanan mengamen menari topeng satu babak
dibayar satu gedeng padi,” tutur Mimi Tursini ketika ditemui di sanggar tari
Sujdi Mekar Harum yang sekaligus di rumah kediamannya di sebuah gang sempit di
kampung gempol Palimanan Kabupaten Cirebon.
Kini untuk
melestarikan secara nyata, Ibu Tursini mendirikan sanggar Suji Mekar Harum.
Muridnya sekitar 20 anak yang masih sekolah di sekolah dasar. Meski sanggarnya
sendiri sebenarnya bukan tempat yang layak, namun Mimi Tursini tak pernah lelah
mepertahankan keberadaan Tari Topeng Palimanan, tanpa bantuan atau perhatian pemerintah
daerah. Bahkan untuk tetap pertahan hidup dan menjaga agar topeng Palimanan
tidak punah tertelan jaman, Mimi Tursini harus rela menanggung ekonomi keluarga
yang babak belur. Himpitan ekonomi dalam usianya yang kain rapuh terus mencekik
kebutuhan hidup keluarganya.
Mimi Tursini tak
bergeming dalam kenestapaan sebagai pewaris topeng Palimanan. Ia tetap setia
melanjutkan pewarisan topeng Palimanan yang pernah dikibarkan hingga
mancanengara oleh ibundanya almarhumah.Ibu Sudji.Bahkan sampai saat ini yang
masih menjalin silaturahmi dan mengakui tari topeng Palimanan dan pernah
menjadi murid Mimi Sudji (almarhumah) yakni penari kontemporer Indonesia
bernama Didik Ninik Towok. “ Mimi Tursini benar adalah anak Mimi Sudji, dan
satu perguruan dengan saya belajar menari topeng Palimanan sama mimi Sudji.
Karena itu sebagai ungkapan hormat saya kepadasalah satu guru tari saya, setiap
tahun saya meluangkan waktu bersilaturahmi dengan putrid mimi Sudji yakni Mimi
Tursini,” ujar Didik Ninik Towok ketika ditemui saat silaturahmi di sanggar
Mimi Tursini.
Mimi Tursini
masih punya kebanggan tersendiri. Selain mewarisi keahlian menari topeng
Palimanan dari Ibu Sudji (almarhumah), juga masih menyimpan perlengkapan tari
topeng Palimamanan yang pernah dipakai Mimi Sudji yakni sobra, kedok Klana dan
rumyang.
Meski ekonomi
keluarganya babak belur, mimi Tursini tak pernah mau beranjak meninggalkan
profesinya saat ini sebagai pelatih tari topeng Palimanan, baik melatih
disanggarnya maupun ke tempat-tempat lain walau tak mendapat imbalan yang
layak. Hanya yang tersisa harapan mimi Tursini saat ini yakni mendapat sedikit
perhatian pemerintah terhadap sanggar tari yang didirikannya, semata demi
kelestarian seni tari topeng palimanan yang nyaris punah.
Sumber: Klik teng riki
jeh...
===================
Kepiawaian Mimi Tursini Menari Topeng Klasik Gaya
Palimanan
BANDUNG,(Pikiran Rakyat).- Rasa penasaran penonton untuk
menyaksikan Tari Topeng Klasik Cerbon (Cirebon) gaya Palimanan akhirnya
terpuaskan. Tampilnya Mimi Tursini (63) pewaris Topeng Klasik Cerbon gaya
Palimanan yang merupakan puteri (alm) Mimi Suji Sang Maestro Topeng Cerbon,
mengundang decak kagum.
Meski hanya membawakan satu tarian, penampilan Mimi Tursini
sebagai pewaris tunggal Topeng Klasik Cerbon gaya Palimanan pada pegelaran seni
dan budaya “Sawengi Ning Cerbon” Sabtu (1/12) malam, mampu mengundang
kekaguman. Tari Topeng Klana yang dibawakan selama hampir 15 menit diakhiri
tepuk tangan penonton yang memenuhi sebagaian tempat duduk Teater Terbuka Balai
Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House).
MimiTursini adalah putri maestro Topeng Klasik Cerbon gaya
palimanan (alm) Mimi Suji. Di usianya yang tidak lagi muda masih berkiprah
untuk terus melestarikan topeng gaya Palimanan, aktifitasnya kini menjadi guru
tari di sanggarnya Mekar Suji Arum.
“Nenek yang sudah banyak cucu dan cicit gerakannya masih
lincah seperti Tursini muda dulu, apalagi kalau menari Wanda Klana, banyak
orang berdecak kagum,” ujar Rucita, dari Dewan Kesenian Kab. Cirebon yang turut
mendampingi para seniman dan seniwati Cirebon yang mendukung terselenggaranya
pegelaran seni dan budaya “Sawengi Ning Cerbon”. (A-87/A-88)***
Sumber: Klik teng riki
jeh...
0 Comments