Tradisi Seba Kliwonan di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon

oleh A. Uban

Tradisi Kliwonan di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dilestarikan hingga kini. Tradisi ini dilakukan setiap malam Jumat Kliwon, sesuai dengan penanggalan Jawa, dan menjadi momentum spiritual yang penting bagi masyarakat setempat maupun peziarah dari berbagai daerah.

FOKUS BERITA CIREBON – Malam jum’at merupakan malam yang sedikit lebih unggul dibandingkan dengan malam-malam lain. Hal ini berangkat dari sabda Nabi yang menyatakan bahwa Jum’at adalah Sayyidul Ayyam wa Hij jul Fuqoro wa ‘Iedul Masaakiin. Bahwa Jum’at itu adalah hari yang paling utama, sabagai Hajjinya para faqir dan hari raya (kemenangannya) para masakin. Sabda Nabi itu direspon oleh masyarakat sebagai kabar gembira. Mereka berlomba untuk memperoleh berkah yang dilipat-gandakan pahalanya pada hari jum’at dari hari-hari yang lain. Mereka berlomba melaksanakan peribadatan sebisa dan sekuatnya.

Aktivitas mereka ini menimbulkan keramainan yang pada gilirannya berpengaruh pada tatanan sosial masyarakat khususnya Gunung Jati.


Secara khusus, Jum’at Kliwon suasana keramaiannya jauh lebih meriah dibandingkan dengan jum’at-jum’at lain dan ini terjadi setiap 40 hari. Hal ini tak lepas dari akar tradisi yang berlaku saat Kesultanan Cirebon masih dalam kepemimpinan Sunan Gunung Jati. Sebagai penguasa wilayah Sunan Gunung Jati memerlukan laporan dari para adipati, bupati, tumenggung dan para menteri untuk memberikan laporan sekitar kondisi sosial dan politik dimana mereka berkuasa. Untuk kemudian melakukan koreksi dan intruksi untuk dilaksanakan sebagai langkah kelanjutannya. Tradisi laporan kegiatan ini adalah kegiatan politik yang berdampak langsung pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar Masjid Agung Sang Cipta Rasa dimana Pelaporan ini dilakukan sebelum pelaksanaan Sholat jum’at. Sehingga setiap acara pelaporan bulanan ini diakhiri dengan pelaksanaan Sholat jum’at. Memasrahkan segenap permasalahan ummat pada taufik dan hidayah-Nya.



Sebuah langkah politis yang dilandasi sikap agamis yang kuat dengan hiasan da’wah terhadap bawahan agar tidak melupakan Allah sebagai penguasa tunggal di jagad raya ini.



Para pejabat Keraton ini membawa pengawal dan sejumlah kerabat untuk mengiring mereka sekaligus silaturahmi dengan keluarga keraton di Keraton Pakungwati. Hal ini menimbulkan keramaian tersendiri.



Masyarakat berduyun-duyun datang yang ingin bertemu dengan para ajengan mereka atau sekedar ingin tahu dan mengagumi penampilan mereka. Ajang pertemuan antar individu ini akhirnya menciptakan tradisi baru yaitu tradisi Seba Kliwonan.



Tradisi Kliwonan di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dilestarikan hingga kini. Tradisi ini dilakukan setiap malam Jumat Kliwon, sesuai dengan penanggalan Jawa, dan menjadi momentum spiritual yang penting bagi masyarakat setempat maupun peziarah dari berbagai daerah.

Sunan Gunung Jati, atau Syarif Hidayatullah, adalah salah satu dari Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya.



Makam beliau terletak di Gunung Sembung, Kabupaten Cirebon, dan menjadi salah satu pusat ziarah terpenting di Indonesia.

Tradisi Kliwonan memiliki akar sejarah dan spiritual yang dalam. Pada malam Jumat Kliwon, masyarakat berkumpul untuk berdoa, membaca tahlil, dan melakukan zikir bersama. Suasana khidmat menyelimuti kompleks makam, dengan iringan lantunan doa yang menggema sepanjang malam. Tidak sedikit pula peziarah yang datang untuk memohon berkah, keselamatan, dan kemudahan dalam hidup.



Selain aspek spiritual, tradisi ini juga memuat unsur budaya dan sosial. Pasar malam dadakan, penjual makanan tradisional, serta para pedagang pernak-pernik religi turut meramaikan suasana. Tradisi Kliwonan menjadi titik temu antara spiritualitas dan kehidupan sosial masyarakat.

Secara historis, tradisi ini sudah berlangsung sejak masa-masa awal setelah wafatnya Sunan Gunung Jati pada abad ke-16. Kliwon dianggap sebagai hari keramat dalam kalender Jawa, dan malam Jumat Kliwon dipercaya sebagai waktu yang penuh kekuatan spiritual. Oleh karena itu, malam ini dipilih sebagai waktu terbaik untuk menghormati jasa dan perjuangan dakwah Sunan Gunung Jati.



Hingga hari ini, pemerintah daerah dan para keturunan Sunan Gunung Jati turut menjaga dan melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya tak benda. Tradisi Kliwonan bukan hanya bentuk penghormatan kepada tokoh agama, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai spiritual dan budaya dalam kehidupan modern.



Penulis : Dido

0 Comments